Meski Berduka Tidak Menghentikan Paskhas Untuk Tetap Latihan.

2009-02-19-jjungar-paskhasTNI-AU sangat kehilangan menyusul insiden jatuhnya Fokker-27 yang menewaskan 24 prajurit (18 di antaranya Paskhas) di Bandung (6/4). ”Kami sangat kehilangan. Mereka prajurit-prajurit terbaik,” kata Komandan Korps Pasukan Khas TNI-AU Marsekal Pertama Hari Budiono kemarin.

Meski begitu, Paskhas tetap akan melanjutkan sistem pendidikan dengan metode terjun freefall seperti yang sedang dilakukan saat pesawat jatuh.

Freefall merupakan penerjunan yang dilakukan pada ketinggian tinggi sekitar 10.000 kaki yang berbeda jauh dari terjun statik di ketinggian rendah. Bagi pasukan seperti Paskhas yang kadang harus melaksanakan misi khusus, terjun freefall merupakan awal sebelum mereka mengantongi kemampuan HALO (high altitude low opening) dan HAHO (high altitude high opening).

”Ini pendidikan khusus. Jadi, apa yang sudah dilakukan mereka tetap berlanjut dan kematian 18 prajurit (Paskhas) itu harus menjadi dorongan semangat bagi para siswa lain,” ujarnya.

Menurut Hari, terjun freefall merupakan pendidikan kualifikasi khusus untuk mencetak prajurit terbaik. Siswa para laju tempur itu berjumlah 35 orang angkatan 33. Yang meninggal 18 orang dan yang tersisa masih 17 siswa. Program tersebut dilaksanakan selama tiga bulan dengan ketinggian terjun sekitar 12.000 kaki sebanyak 40 kali penerjunan.

Korpaskhas adalah prajurit elite TNI-AU paling tua. Awalnya dibentuk pada 17 Oktober 1947. Saat itu, 13 personel dari pasukan payung TNI-AU tersebut diterjunkan di Hutan Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, untuk sebuah operasi militer. Ketiga belas personel itu berasal dari anggota PPP (Pasukan Pertahanan Pangkalan).

Kala itu, TNI-AU mempunyai tiga jenis pasukan. Yakni, Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Pasukan Gerak Tjepat (PGT), dan Penangkis Serangan Udara (PSU). Karena penerjunan di Kotawaringin itu dianggap cukup fenomenal, ditetapkanlah tanggal penerjunan tersebut sebagai hari jadi Korps Baret Jingga.

Pada 19 April 1963, PGT, PSU, dan PPP dilebur menjadi satu dengan nama Koppau (Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara). Namun, tiga tahun kemudian, 27 Mei 1966, Komando Pasukan Tjepat (Kopasgat) resmi dibentuk menggantikan nama Koppau.

Sembilan belas tahun kemudian, 11 Maret 1985, Kopasgat berubah nama menjadi Pusat Pasukan Khas TNI-AU (Puspaskhasau). Hanya dua tahun berselang, Puspaskhasau ditingkatkan menjadi salah satu korps yang berkualifikasi pasukan khusus dalam TNI-AU dengan nama Korps Pasukan Khas Angkatan Udara (Korpaskhasau) hingga sekarang. Penggunaan baret jingga terus dipertahankan sebagai identitas korps itu.

Paskhas merupakan satuan tempur khusus berkemampuan tiga matra, yakni laut, darat, dan udara. Hanya, operasi, tugas, serta tanggung jawabnya lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh. Selanjutnya, pasukan tersebut menyiapkan pendaratan pesawat kawan.

Kemampuan itu disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Korps itu juga mengajarkan berbagai ilmu pertempuran di berbagai medan sampai penanggulangan teror aspek udara yang dikenal sebagai Atbara (antibajak udara).

Seperti personel pasukan khusus lainnya, menjadi anggota Paskhas harus ditempa berbagai latihan khusus dan berat. Pada seleksi awal, para anggotanya harus punya tinggi badan minimal 163 cm. Selain itu, mereka harus mampu push-up 70 kali (dalam 2 menit), sit-up 70 kali (dalam 2 menit), pull-up 15 kali, dan lari 2 mil (dalam waktu 15 menit). Selain itu, anggota harus ahli renang militer dan renang gaya bebas.

Materi latihan lainnya adalah mendalami ilmu serbuan counter terrorism serta penguasaan berbagai senjata api dan senjata tajam. Setelah itu, materi pendalaman jungle warfare, infiltrasi laut dan udara, operasi raid dan patroli, plus pengintaian jarak jauh.

Semua diperlakukan sama bagi perwira, bintara, atau tamtama. Yang harus dijalani setidaknya 12 item. Di antaranya, lari sprint 3.200 m per 12 menit, lari cepat untuk kekuatan kaki 5 km per 24 menit, renang 2 km tanpa perlengkapan khusus selama 12 jam, dan panjat tebing. Lalu, mereka juga harus lolos dari materi kamp tawanan dan pelolosan yang sangat berat.

Tahun lalu, Mabes TNI-AU menambah satu batalyon korps Paskhas. Satu batalyon baru tersebut adalah Batalyon 467 Hardha Dedali berdasar Peraturan Kasau/41/VII/2008 tertanggal 9 Juli 2008. (sumber:jawa pos)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: