Jeritan Hati Mahasiswa Indonesia di Singapura Yang Tak Terungkap.

ilustrasi

ilustrasi

 

darupurwitapo— Penyebab kematian David Hartanto Widjaja (21) hingga kini masih misterius. Awalnya, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, itu diberitakan bunuh diri setelah menusuk dosen pembimbingnya. Namun, hingga kini kepastiannya masih misteri.

Terlepas motif di balik insiden yang menggegerkan Singapura itu, peristiwa tersebut sedikit menguak “penderitaan” mahasiswa Indonesia di luar negeri. Mereka adalah mahasiswa cerdas, tetapi stres karena terbebani target terlampau tinggi.

Begitu kasus David mencuat, banyak mahasiswa di Singapura mengungkapkan jeritan hatinya di berbagai situs jejaring sosial. Betapa tekanan untuk berhasil begitu tinggi. Sampai akhirnya sejumlah mahasiswa memilih berusaha bunuh diri. Ada yang membenturkan kepala ke kaca dan ada pula yang sampai masuk rumah sakit jiwa.

Pengguna situs Multiply bernama Margaritta, misalnya, mengungkapkan isi hatinya tentang penderitaan kuliah berbeasiswa di Singapura.

Gue tidak menyesali empat tahun ke belakang karena, memang benar, tanpa apa yang ada empat tahun itu, tidak ada gue yang sekarang. Tapi gue juga tidak menyangkal bahwa hal sama yang telah gue lewati telah membuat kakak temen gue melompat ke rel kereta api dalam percobaan bunuh diri yang gagal. Mengirim anak dokter ternama masuk rumah sakit jiwa. Membawa seorang kawan memecahkan kaca ruang kuliah dengan kepalanya sendiri,” tulis Margaritta.

“Bener2 menggambarkan perasaan kita ‘hiks, msh freshie br mau k year 2, msh blm terbiasa sm’ suasana di sini,” sambung Salzannisa.

Margaritta kemudian menuturkan bahwa Singapura memberikan pelayanan baik bagi mahasiswa penerima beasiswa. Namun, mereka juga menuntut banyak.

Berikut penuturannya : Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama. Kami mendapatkan kamar yang bersih, air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100mbps. Fasilitas sekolah sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji untuk belajar dan riset dengan materi tercukupi.  

Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?

Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orangtua gue tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk ‘membayar’ lebih dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.”

Margaritta menyebut kasus David hanyalah salah satu kasus, dan sebenarnya masih banyak kasus yang tidak terungkap.  “Senior bbrp tahun di atas qta, yg ke kaca itu seangkatan…sebenernya gw sering denger juga percobaan bunuh diri, tapi yah itulah..selalu ditutup2i, jd ga pernah masuk brita. Seandainya yg ini ga kelewat geger jg pasti ditutup2in.

“Tapi jangan patah semangat yee…Mungkin bener kata loe, sekarang smua orang jd takut sama anak Indo, niscaya kita akan diperlakukan dengan baik di masa mendatang! hehehe…” *

Banyak tanggapan disampaikan untuk menemukan solusi tentang tekanan psikologis yang dialami para mahasiswa Indonesia di Singapura. Pengguna Multiply bernama Omadt, misalnya, mengusulkan terbentuknya forum diskusi anak-anak cerdas berbeasiswa di luar negeri.

“Sayangnya (seperti yang sudah-sudah) kita di Indo baru kebakaran jengot sesudah mengetahuinya dalam keadaan yang parah. Walaupun demikian, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan tersebut dan menyelamatkan Anda sebagai “asset” dari bangsa yang sedang “nyungsep” ini.

Mungkin ada baiknya untuk membentuk sebuah Forum Group Discussion (FGD) untuk komunitas anak-anak bangsa yang cemerlang ini. Paling tidak, sesama anak bangsa yang sedang merantau mempunyai tempat curhat dan membuka kemungkinan memecahkan masalah secara bersama-sama. Yang mengarahkan, kalo gak ada profesional dari negeri sendiri, ya para alumni yang udah lulus “kawah candradimuka” dan berhasil survive. (Mungkin gak.? sudah ada atau belum ..? atau sudah ada tapi belum berjalan optimal..?)
Mudah-mudahan keadaan akan menjadi lebih baik( sumber:kompas)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: