Akibat Trauma pada Laki-laki,Seorang Ibu Tega Kurung Putrinya

ilustrasi

ilustrasi

 PONOROGO, darupurwitabdr —Seorang warga Desa Tranjang, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tega mengurung anak perempuannya sejak balita karena trauma terhadap laki-laki.

Tuminen (59) melarang putrinya, Tina Ekowati (15), keluar dari rumah, bahkan bersosialisi dengan orang lain. Akibatnya, di usia 15 tahun Tina tidak bisa membaca dan menulis. “Kalau ibunya ke hutan cari kayu, dia dikurung di rumah, dikunci dari luar. Sebagai tetangga, kami prihatin dan kasihan. Warga sering membantu memberi makanan karena jika dibantu lainnya ibu Tina selalu menolaknya. Apalagi jika yang memberi laki-laki,” kata Ny Sumiyati, tetangga Tuminem, kepada farian Surya.

Hutan tempat mencari kayu bakar itu lebih kurang 5 km dari rumah Tuminem. Tuminem sehari-hari bekerja mencari kayu bakar dan sesekali menggarap lahan tumpang sari milik Perhutani. Ny Titiek (40), tetangga, mengungkapkan, saat ditinggal ibunya, biasanya Tina diberi secangkir kopi dan lintingan rokok, yang dimasukkan ke dalam tas plastik.

”Kalau pagi berangkat ke hutan, baru tengah hari Tuminem pulang,” lanjut Ny Sumiyati. ”Beruntung, Tina secara fisik sehat, tak ada gangguan sama sekali. Hanya perkembangan psikologisnya yang tak sesuai.”

Tina seharusnya sudah duduk di bangku SMP. Meski menginjak remaja, pembawaan Tina tak sama dengan perkembangan gadis belia seusianya. Bila didekati, gadis berambut sebahu ini selalu menghindar. Takut. Saat ditanya apa pun, dia selalu menutup mata atau berpaling dengan hanya memberikan jawaban isyarat, seperti menggeleng-gelengkan kepala. Kalau dipaksa melakukan sesuatu, kerapkali mengamuk.

Mengapa Tuminem tega mengurung anak kandungnya? Trauma masa lalu. Saat merantau ke Surabaya dan Jakarta, 20-an tahun lalu, Tuminem yang nama aslinya Tuminah menghasilkan dua anak : Tumini (kini 20 tahun), dan Tina Ekowati, tanpa jelas ayah kandungnya.

Misinem, kakak kandung Tuminem, menjelaskan, adiknya selalu menolak bantuan dari laki-laki sejak pulang kampung dari merantau. Ia takut laki-laki yang membantunya akan memerkosa anaknya. “Dua anak adik saya ini, tak jelas lakinya. Pulang dari Jakarta sudah hamil,” tutur Misinem.

Tuminem kepada Surya mengaku tak ingat lagi nama asli ayah kandung Tina Ekowati. Yang diingat, ayah kandung Tina sekarang ada di Jakarta dan bekerja di dealer mobil. “Wong mboten nate wangsul. Nggeh kulo mboten emut namine. (Tak pernah pulang. Saya tidak ingat namanya),” jelasnya.

Trauma Tuminem kian mendalam setelah Tumini, anak sulungnya, kabur dari rumah. ”Biar saja Tina enggak sekolah, yang penting dia tidak meninggalkan saya dan tak kenal laki-laki, tak ada yang dapat dipercaya,” tandas Tuminem.

Rumah Tuminem terletak di belakang perkampungan penduduk Desa Tranjang. Dindingnya dari anyaman bambu. Genting berlubang di sana-sini. Kayu penyangga terlihat lapuk dan miring.

Tak ada perabot berharga. Hanya deretan panci, lampu ublik (lampu minyak gas di botol), sebuah sepeda pancal yang rusak, serta sebuah meja tua yang lusuh. Lantainya masih tanah. Ada selembar tikar dengan tumpukan baju-baju. Rupanya, Tina dan ibunya biasa tidur di situ.(sumber:kompas.com)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: