Anggaran TNI Yang Kalah Dengan Singapore Masih Juga di kurangi….

– Rentetan jatuhnya pesawat TNI beberapa tahun terakhir memantik dugaan bahwa cekaknya anggaran pertahanan di Indonesia menjadi biang keladi.

Sejumlah anggota Komisi I (Bidang Pertahanan) DPR dan pengamat menilai, minimnya duit militer tersebut berdampak tak langsung terhadap kecelakaan pesawat yang beruntun dua tahun terakhir, termasuk tragedi Hercules C-130 yang jatuh di Magetan, Jatim, Rabu lalu.

”Kalau teman-teman di Dephan atau TNI menyatakan tidak punya dampak langsung, sebetulnya itu berbohong kepada publik,” ujar anggota Komisi I DPR Ali Mochtar Ngabalin kepada Jawa Pos kemarin (21/5).

Menurut politikus asal Partai Bulan Bintang tersebut, anggaran yang sangat sedikit tetap punya efek langsung terhadap keselamatan prajurit serta keamanan sarana angkut TNI.

”Kalau kecelakaan itu terjadi 10 tahun sekali, mungkin bisa dipahami. Tapi, bayangkan, ini terjadi berturut-turut. Penyelidikan Fokker yang jatuh di Bandung (6/4) belum selesai, giliran Hercules jatuh. Prajurit terbaik kita mati bukan karena perang, tapi terpanggang,” ungkapnya.

Anggaran pertahanan dalam APBN 2009 sebesar Rp 35,3 triliun lebih kecil daripada anggaran 2008, yakni Rp 36,39 triliun. Anggaran yang kurang dari satu persen di antara total APBN itu hanya bisa mendukung sekitar 36 persen kebutuhan minimal.

Menurut Ali, dalam kultur negara maju, jika terjadi kecelakaan berturut-turut yang menimpa tentara, pimpinannya langsung mengundurkan diri. ”Sebagai tanggung jawab langsung, mereka mundur dengan terhormat. Dalam kasus ini bisa KSAU atau panglima TNI. Itu menurut saya fair,” katanya.

Politikus asal Sulawesi Selatan tersebut menceritakan, dalam kunjungannya ke pulau-pulau terluar dan perbatasan, banyak prajurit yang mengeluh. ”Mereka hanya berani bisik-bisik kepada kami. Seorang sersan tidak mungkin berani bicara langsung kepada komandannya,” ujarnya.

Ali mencontohkan, latihan tembak di daerah-daerah sering tidak menggunakan peluru. Suara dor hanya diucapkan dengan mulut. ”Kalau saya masuk ke rumah dinas mereka, dari ruang tamu bisa lihat tembus ke langit. Bahkan, seorang Brigjen harus utang ke sana kemari untuk menyekolahkan anaknya,” ungkapnya.

Menurut dia, TNI dan Dephan harus berani mengajukan anggaran yang memadai untuk operasional TNI. ”Kami siap memenuhi,” tegasnya.

Dalam rumusan belanja pertahanan TNI, kebutuhan untuk gaji prajurit dan operasional mencapai Rp 15 triliun, pemeliharaan senjata Rp 8 triliun, serta untuk fasilitas militer Rp 3 triliun.

”Lebih banyak untuk menggaji prajurit dan urusan kantor,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Strategi Indonesia (Lespersi) Rizal Darmaputra kepada Jawa Pos kemarin.

Menurut dia, anggaran militer Indonesia dikategorikan di kelompok yang paling kecil jika dibandingkan negara-negara Asia lain. Indonesia hanya lebih baik daripada Myanmar, Laos, serta Kamboja. Dibandingkan Singapura, Indonesia kalah sangat jauh. Mereka punya dana USD 4,4 miliar (selengkapnya lihat grafis, Red). Padahal, luas negaranya hanya sekitar 700 km persegi.

Sementara militer Indonesia harus menjaga keamanan negara dari Sabang sampai Merauke. ”Dibandingkan dengan produk domestik bruto dan APBN anggaran, kita sangat jauh dari ideal,” katanya. Seharusnya, lanjut alumnus DCAF, Jenewa, itu, anggaran perawatan pesawat dan operasional TNI tidak dikurangi. ”Sekarang ada pemotongan anggaran 15 persen, ini sangat berdampak pada kebutuhan perawatan,” katanya.

Pengamat dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto bahkan lebih keras mengkritik TNI. ”Seorang purnawirawan pernah menyampaikan langsung kepada saya bahwa prajurit TNI harus siap dengan peti mati terbang,” katanya. Istilah peti mati terbang itu, kata Andi, bukan untuk menjelek-jelekkan TNI. ”Justru kita sangat prihatin. Mereka adalah pembela negara yang harus disejahterakan,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Institute of Defense Security Study (IODAS) Connie Rahakundini menilai, idealnya TNI mendapat anggaran 5,7 persen dari PDB agar terhindar dari berbagai ancaman seperti kehilangan wilayah dan separatisme. ”Anggaran TNI tidak pernah lebih dari satu persen atau rata-rata hanya 0,98 persen dari PDB. Bahkan, tahun ini malah turun menjadi 0,6 persen karena ada pemilu,” tuturnya.

Dia menyesalkan, rakyat Indonesia selalu menuduh TNI melanggar HAM. Padahal, tentara Indonesia-lah yang selama ini sering dilanggar hak-haknya. ”Kecelakaan ini harus menjadi evaluasi untuk semua pihak,” kata istri mantan Pangkostrad Djadja Suparman itu.

Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, kebutuhan minimal Departemen Pertahanan dan TNI sekitar Rp 100,53 triliun. Namun, hanya terpenuhi kurang dari setengahnya (Rp 35,3 T). Pada tahun lalu, dari Rp 36,4 triliun, TNI Angkatan Darat secara nominal mendapat porsi anggaran terbesar sekitar Rp 16,1 triliun. Tetapi, dana itu dialokasikan untuk 129 satuan kerja (satker).

Lalu, TNI Angkatan Laut dialokasikan Rp 5,5 triliun yang akan didistribusikan ke 47 satker. Dan, TNI Angkatan Udara menerima alokasi anggaran Rp 3,98 triliun yang didistribusikan ke 58 satker.

Untuk Dephan, yang mendapat alokasi anggaran Rp 6,3 triliun, dana itu didistribusikan hanya ke dua satker yang ada. Sementara itu, untuk Mabes TNI, dari total alokasi anggaran yang diterima Rp 4,5 triliun, besaran itu didistribusikan untuk 11 satker.

Juwono Sudarsono berulang-ulang mengatakan, Indonesia masih memprioritaskan pos anggaran untuk kesejahteraan rakyat dalam bentuk kesehatan dan pendidikan. ”Kami bisa memahami dalam keterbatasan ini memang harus ada yang diprioritaskan,” ujar Juwono sebelum menghadap Presiden SBY Rabu lalu.

Menhan mengatakan, pengadaan suku cadang pesawat Hercules tipe B hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa unit milik TNI-AU yang beroperasi. Penyebabnya, nilai anggaran pertahanan selalu kurang dari kebutuhan jajaran TNI. ”Anggaran tahunan kita selalu di bawah 36 persen dari yang diperlukan,” katanya

Akibat keterbatasan anggaran tersebut, hanya separo di antara sembilan unit pesawat angkut Hercules tipe B milik TNI yang beroperasi.

Kapuspen TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menegaskan, anggaran untuk merawat pesawat cukup. “Tidak mungkin sebuah pesawat diizinkan keluar pangkalan kalau tidak dalam kondisi layak terbang,” katanya.

Sagom menolak berpolemik soal anggaran TNI. “Bagi kami, berapa pun yang diberikan untuk negara akan kami maksimalkan. Kecelakaan di Magetan itu musibah, jangan dihubung-hubungkan,” tuturnya.

Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakui cekaknya anggaran pertahanan terjadi pascakrisis 1997-1998. Sepanjang masa pemulihan ekonomi, pemerintah lebih memprioritaskan anggaran untuk pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran. “Selama masa itu, anggaran pertahanan memang agak terabaikan,” kata Sekretaris Utama Bappenas Syahrial Loetan saat dihubungi kemarin (21/5). Bappenas adalah instansi pertama yang merancang APBN.

Syahrial mengungkapkan, dengan cukup lama tidak berinvestasi di bidang pertahanan, pemerintah makin sulit mengejar ketertinggalan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan minimal (minimum essential force), anggaran yang dialokasikan sepanjang tahun masih sulit untuk memenuhi.

Untuk anggaran pertahanan 2010 yang kini sedang disusun, Syahrial memastikan tidak akan lebih tinggi daripada tahun ini. Hal tersebut dilakukan karena APBN 2010 dilaksanakan oleh pemerintahan yang baru. Dengan demikian, perencanaannya disengaja tidak terlalu berbeda dengan tahun ini agar mudah bagi pemerintah berikutnya untuk mengubah.

Dengan anggaran tetap, dipastikan pula secara riil nilainya akan turun. Karena dengan adanya inflasi, nilai barang saat pengadaan akan lebih mahal, namun anggaran yang disediakan relatif tetap. “Kalau sama, berarti praktis turun karena ada inflasi,” ujarnya. (sumber:jawapos)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: