Bayi Kecemplung Wajan.

Para warga Desa Duko Timur, Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, mengumpulkan sumbangan uang untuk membiayai pengobatan Feri Falentino sekaligus membawanya ke RSUD Pamekasan, Senin (1/6). Bayi berusia 28 bulan itu menderita luka bakar parah akibat tercebur ke wajan penuh minyak goreng panas.

Kecelakaan yang dialami Feri terjadi hampir tiga pekan lalu, tepatnya pada 12 Mei. Selama 10 hari terakhir Feri dibiarkan oleh orangtuanya terbaring lemah di rumah. Pasalnya, ayah dan ibu Feri, Sucipto, 35, dan Hendriyati, 30, warga Desa Duko Timur, merasa putus asa lantaran tak punya biaya lagi untuk mengobatkan anak mereka.

Selama 10 hari orangtua Feri terpaksa membiarkan Feri menahan sakit di kamar tanpa perawatan dokter. Akibatnya, luka bakar bocah malang ini semakin parah sekaligus mengeluarkan air dan nanah sehingga membua miris orang yang melihat.

Sebelumnya, Feri –yang menderita luka serius di bagian kepala, perut, punggung dan dada– sempat dirawat di Puskesmas Larangan atas biaya bantuan para tetangga dan kades setempat. Namun, setelah delapan hari dirawat, dua orangtuanya membawa Feri pulang paksa dengan alasan tidak ada biaya.

“Kami tidak ingin Feri makin menderita. Kami berdua menghendaki luka bakar di sekujur tubuh Feri terobati. Kasihan dia, tiap saat menangis tidak kuat menahan luka bakarnya,” ujar Hendriyati, beberapa saat setelah membawa Feri ke UGD RSD Pamekasan.

Dia mengatakan, dulu selama Feri dirawat di Puskesman Larangan, semula pihak puskesmas menarik biaya Rp 1,5 juta. Namun, selang beberapa hari kemudian, Puskesmas Larangan mengembalikan Rp 1.100.000, yang berarti hanya dikenai biaya Rp 400.000.

Hendriyati menceritakan awal musibah yang menimpa anaknya tersebut, yang terjadi pada Selasa (12/5) lalu. Saat itu, Hendriyati membantu memasak di rumah tetangga yang punya hajatan, sedangkan Feri bersama sang kakak, Baitul Ati, 8, asyik bermain sambil berlari-lari seraya memanggil-manggil nama ibunya.

Tiba-tiba, kenang Hendriyanti, dari arah dapur terdengar suara benda jatuh disusul teriakan histeris anaknya. Hendriyati kaget, dan bergegas menuju suara sang anak.

Ternyata, Feri terjatuh dalam posisi telungkup ke wajan berisi minyak goreng panas sebanyak satu kilogram, sehingga kepala Feri tidak kelihatan. Giliran Hendriyati yang berteriak histeris dan meminta tolong. Kemudian, tetangga membantu membawa Feri ke Puskesmas Larangan.

Tidak Mampu
Adapun Sucipto mengaku membawa pulang paksa anaknya dari Puskesmas Larangan lantaran kehabisan uang. Dirinya sebagai buruh tani berpenghasilan hanya Rp 5.000 per hari, sehingga tidak mampu membiayai pengobatan Feri.

“Saat itu kami masih beruntung karena ada belas kasih dari tetangga dan bantuan kades. Tapi apakah kami harus seperti ini menunggu belas kasihan orang terus menerus? “ keluh Sucipto, yang mengaku ditarik Rp 100.000 saat membawa anaknya ke UGD RSD Pamekasan.

Sucipto sebagai penduduk miskin sedang mengurus kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). “Sekarang kami belum berpikir berapa biaya yang harus dikeluarkan nanti untuk pengobatan anak saya. Yang penting dia tertolong dulu, biar kondisinya tidak makin memburuk,” katanya.

Penderitaan Feri akhirnya menarik perhatian Wakil Bupati (Wabup) Pamekasan, Kadarisman. Dia pun meminta kepada Kadinkes Pamekasan dan Direktur RSUD Pamekasan untuk merawat Feri sampai sembuh. Hal itu dikatakan Kadarisman ketika dihubungi wartawan di rumah dinasnya, Senin (1/6) petang.(sumber:surya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: