Pembunuh Kiai di Blitar Tertangkap

   –Kerja keras Tim Khusus (Timsus) Polwil Kediri yang dikomandani Kanit Pidum AKP Didik Warsianto memburu pelaku perampokan dan pembunuhan tokoh NU Kabupaten Blitar, KH Moh Ichwanto akhirnya membuahkan hasil.

Timsus berhasil membekuk empat tersangka, salah satunya adalah anggota komplotan perampok dan pembunuh KH Moh Ichwanto, sedangkan tiga lainnya adalah komplotan yang selama ini sudah tujuh kali mengacak-acak Blitar dengan aksi perampokannya.

Mereka adalah Suwoko, 32, warga Desa Cowek, Purwodadi, Pasuruan; Sudarmono, 20, warga Sukorejo, Pasuruan; Purnomo, 27, dan Achmadi, 23, keduanya warga Sukolilo Pasuruan.
Diringkusnya empat tersangka ini berawal dari penyelidikan polisi yang semula sudah mengantongi sembilan nama pelaku yang dicurigai sebagai pelaku sejumlah aksi.

“Setelah mendapatkan identitas pelaku yang kita curigai, kami langsung melakukan pendalaman dan ternyata mereka memang komplotan perampok yang beraksi sebanyak tujuh kali di Blitar serta beberapa daerah lainnya yakni Jember, Probolinggo dan Malang,” kata Kapolwil Kediri Kombes Pol Heru Purwanto didampingi Kasubag Reskrim Kompol Andris S Wewengkang, Jumat (5/6).

Proses penangkapan empat tersangka cukup sulit, karena mereka dikenal licin. “Tapi anggota tim sebanyak 8 orang terus berupaya dan berhasil meringkus mereka. Kini tinggal memburu enam anggota komplotan lainnya,” jelasnya.

Menurut Kanit Pidum AKP Didik Warsianto, untuk menangkap Purnomo dan Sudarsono yang diduga kuat ikut beraksi di rumah KH Ichwanto, lima anggota polisi harus menyamar menjadi petugas PLN. “Karena tidak mau buruan kami kabur, akhirnya kami meminta bantuan petugas PLN. Kami ikut menyamar sebagai petugas PLN,” ungkapnya.

Dengan menumpang mobil PLN serta mengenakan peralatan petugas PLN, anggota tim pimpinan Didik ini berhasil masuk rumah Purnomo dan Sudarmono. Setelah pura-pura akan memperbaiki kabel listrik, Didik berusaha mencari barang bukti yang ada di dalam rumah Purnomo.

“Ternyata di rumah itu ada ponsel milik salah satu korban. Setelah saya periksa, ternyata benar dan langsung kita ringkus keduanya saat sedang duduk di teras rumah pada Kamis (4/6) sekitar pukul 16.00 WIB,” terangnya.

Purnomo dan Sudarmono sempat melawan, tapi langsung dilumpuhkan dengan tembakan di kaki kiri dan kanannya. Dari keterangan keduanya, polisi kemudian memburu Achmadi di rumahnya sekitar satu jam kemudian. Pria dengan postur tubuh paling kecil ini sempat duel dengan tiga polisi yang akan menangkapnya. “Bahkan dia berteriak minta tolong untuk menarik perhatian warga sekitar, hingga terpaksa dilumpuhkan dengan ditembak kaki kirinya,” tegasnya.

Sedangkan gembong komplotan ini, Suwoko, baru bisa ditangkap setelah dilacak keberadaannya dari Jember hingga kembali ke Pasuruan. Dia disergap polisi saat pulang ke rumahnya di Pasuruan sekitar pukul 03.00 WIB, Jumat (5/6) dini hari. “Suwoko sempat berusaha kabur, tapi anggota saya dengan cepat langsung melumpuhkannya dengan menembak betis kanannya,” imbuhnya.

Dijelaskan oleh Kapolwil Heru Purwanto, keempat tersangka mengaku pernah melakukan perampokan 3-7 kali di Blitar, sementara tersangka Purnomo diduga terlibat dalam perampokan dan pembunuhan KH Ichwanto.

Aksi perampokan yang sebelumnya pernah mereka lakukan antara lain di rumah Nanang Fakhrudin, Desa Jeding, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Saat itu kawanan perampok berhasil menggasak 3 mobil, 3 sepeda motor, perhiasan emas, uang tunai, laptop, televisi dan ponsel dengan total nilai sekitar Rp 1 miliar.

Adapun barang bukti yang diamankan dari keempat tersangka yakni televisi 21 inch, alat pemotong kaca, alat pencongkel jendela, TV mobil, ponsel, dan pakaian yang digunakan saat beraksi.
Sementara itu, Suwoko ketika ditanya wartawan mengaku sengaja memilih Blitar sebagai sasaran, karena ada yang bertugas khusus mencari target di kawasan itu. Sedangkan kendaraan bermotor hasil kejahatannya dijual ke beberapa daerah di antaranya ke Probolinggo dan Jember.

Setiap kali beraksi, Suwoko mengaku setiap anggotanya bisa mendapatkan hasil antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per orang. Ketika ditanya apakah komplotannya ikut beraksi di Nglegok hingga menewaskan KH Moh Ichwanto, dia langsung terdiam.

Seperti diberitakan Surya (Kamis, 4/6), tokoh NU KH Moh Ichwanto, 52, yang juga Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terbunuh dalam aksi perampokan di rumahnya, di Dusun Sumberkecek, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Rabu (3/6) dini hari.

Dalam peristiwa itu, enam perampok mengikat tangan dan kaki serta melakban mulut sang kiai dan istrinya, Hj Nur Hidayati, 48. Dalam posisi mulut diplester hingga sedikit menutupi hidungnya, KH Ichwanto dipaksa tengkurap di kasur, kemudian kepalanya ditindih beberapa bantal yang membuatnya susah bernafas dan meninggal.

Setelah itu para perampok leluasa mengacak-acak isi rumah dan membawa kabur mobil Suzuki Katana berikut STNK dan BPKB-nya, perhiasan emas 20 gram, uang Rp 3 juta, 2 ponsel, pesawat TV 21 inch, dan beberapa pakaian dengan total nilai sekitar Rp 50 juta. Ais.(sumber:surya)

2 Komentar

  1. dian said,

    Juni 25, 2009 pada 9:27 am

    alhamdulillah akhirnya pencurinya ditangkap

  2. jaka sembung said,

    Juni 2, 2011 pada 1:54 am

    di hukum cambuk aja pak polisi, ampek modar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: