TNI Kembali Berduka Helikopter Puma SA 330 TNI-AU jatuh di Lanud Atang Sendjaja, Bogor

 – Awan kelabu kembali mewarnai dunia penerbangan militer tanah air. Belum kering tanah merah makam prajurit Kopassus yang tewas bersama helikopter jenis Bolkow-105 Senin lalu (8/6), kecelakaan serupa terjadi kemarin. Kali ini giliran helikopter Puma SA 330 milik TNI-AU jatuh di Lanud Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat. Empat prajurit TNI-AU tewas, tiga luka berat.

Itu berarti -dalam sebulan, sejak 20 Mei 2009- sudah tiga pesawat milik TNI jatuh. Atau, Puma tersebut merupakan pesawat keenam TNI yang mengalami kecelakaan dalam empat bulan terakhir, termasuk tergelincirnya pesawat Hercules di Bandara Wamena, Papua, saat mengangkut logistik Pemilu 2009 pada 11 Mei lalu.

Tragisnya, dalam enam rentetan kecelakaan udara itu, tercatat 132 korban meninggal dunia.

“Ini sangat miris. Sangat memprihatinkan,” ujar Ketua DPR Agung Laksono di Jakarta kemarin. Dia mendesak dilakukan audit terhadap alat transportasi udara TNI, terutama yang sudah berusia tua. “Sebelum diaudit, di-grounded dulu, jangan sampai ada korban baru lagi,” katanya. Audit terhadap peralatan TNI penting agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi.

Heli bernomor registrasi H 3306 itu kemarin jatuh saat melakukan tes terbang di Lanud Atang Sendjaja sekitar pukul 14.00. Menurut Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI-AU I Marsma Imam Safaat, heli yang sering dipakai membawa pejabat militer itu sedang melakukan tes mesin. Namun, saat take-off dan ketinggian baru mencapai 20 meter, mesin tiba-tiba mati. Heli pun jatuh 200 meter dari hanggar. ”Pagi harinya, heli sebenarnya sudah diuji dan dinyatakan baik,” terang Imam.

Sebelum jatuh, lanjutnya, heli yang mengangkut tujuh orang tersebut bermasalah pada automatic pilot. Sejak enam bulan lalu, heli buatan Prancis itu menjalani perawatan berat di Bandung. ”Memang automatic pilot itu sempat bermasalah. Tapi, perawatan heli tersebut sudah selesai,” kilahnya di RS AU Atang Sendjaja kemarin. Diakuinya, akibat kecelakaan itu, ekor pesawat patah dan kondisi helikopter rusak berat.

Dua di antara tujuh awak meninggal di tempat kejadian, yakni teknisi bernama Serka Catur dan Sertu Dodi. Dua lain meninggal saat dirawat di RS Atang Sendjaja, masing-masing pilot Mayor (Pnb) Sobic Fanani dan kopilot Lettu Penerbang Wisnu.

Korban lain yang mengalami luka bakar serta patah tulang adalah Letda Roni (teknisi), Serka Ferdinand (teknisi), dan Serka Epram (teknisi). ”Saya melihat helikopter tersebut tiba-tiba menungging, kemudian langsung jatuh dengan suara ledakan,” kata Zaenuddin, 51, warga Kampung Bobojong, Kecamatan Kemang, yang saat itu sedang bercocok tanam di dekat Lanud ATS.

Sandy, salah seorang saksi mata, menceritakan, sebelum helikopter jatuh, pagi harinya kondisi mesin sempat diperiksa oleh teknisi. ”Malah sempat diterbangkan oleh pilot,” ujarnya. Namun, saat heli diterbangkan kembali siang harinya, tiba-tiba oleng saat mencapai ketinggian 200 meter hingga akhirnya jatuh membentur tanah dan meledak. ”Saya kaget melihat helikopter itu jatuh,” ujarnya.

Kepala Penerangan Lanud Atang Sendjaja Mayor Sus MI Adam mengatakan, saat ini lokasi kejadian sedang disterilkan oleh tim Mabes TNI-AU. Menurut dia, penyebab jatuhnya helikopter masih dalam penyelidikan.

”Kondisi heli rusak parah, ekor dan baling-baling patah,” jelasnya.

Rika, istri salah seorang korban, Serka Dodi, terlihat shock. Saat dikunjungi di rumahnya, perumahan Kompi C Blok CC Nomor 27, perawat RS Hermina itu tidak bisa berkomentar. Rika dan korban merupakan pengantin baru. Mereka baru setahun tinggal di perumahan khusus anggota TNI-AU. ”Dia masih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru,” kata salah seorang warga.

Dari Senayan, Agung menambahkan, rentetan musibah itu berdampak kepada investasi SDM TNI yang berbiaya besar. ”Kalau dihitung sejak seorang calon prajurit ikut pendidikan hingga menjadi perwira, berapa juta rupiah, ratusan juta rupiah,” katanya.

TNI, kata dia, saat ini harus terbuka untuk diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ”Auditnya tidak hanya secara kuantitas, tapi juga sistem,” kata politikus Partai Golkar itu.

Soal alokasi anggaran pertahanan, DPR telah memenuhi agar diberikan tambahan pada APBN 2010. Penambahan diharapkan bisa digunakan untuk membeli perangkat yang baru. ”Dana sudah ada komitmen untuk ditambah. Ini tinggal bagaimana perawatannya,” ujarnya.

Komentar lebih keras disampaikan Ali Mohtar Ngabalin. ”Dalam sejarah penerbangan Indonesia, ini paling buruk,” katanya.

Bahkan, Ali mendesak adanya tanggung jawab nyata dari pimpinan TNI. ”Harus ada yang secara kesatria menyatakan bertanggung jawab,” ucapnya.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso selama ini memastikan, sebuah pesawat tidak boleh diterbangkan jika tidak layak. ”Yang jatuh itu dalam posisi uji kelayakan,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsma Bambang Sulistyo kemarin. Sebuah tim investigasi sudah bergerak menyelidiki kasus itu di Lanud Atang Sendjaja.

Pengamat militer yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Andi Widjojanto menduga terjadi ketidakberesan dalam manajemen Dephan maupun Markas Besar TNI dan ketiga matra angkatan.

”Selama ini mereka berupaya membelokkan persoalan menjadi masalah-masalah yang bersifat teknis. Padahal, ada sejumlah masalah mendasar penyebab kesalahan terjadi secara sistematis. Misalnya, terkait kesalahan manajemen pengelolaan alutsista.” (rdl/rur/jpnn/iro)

Daftar Pesawat TNI Jatuh

7 Maret

Helikopter latih Pusdik Penerbangan Angkatan Darat jenis Hughes C300 HL 4098 jatuh di Kelurahan Tugurejo, Tugu, Semarang. Tidak ada korban jiwa.

6 April

Pesawat TNI-AU jenis Fokker F-27 Troopship jatuh dan terbakar di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Korban tewas enam awak pesawat dan 18 prajurit.

20 Mei

Pesawat angkut C-130 Hercules Alpha 1325 jatuh dan terbakar di Desa Geplak, Kec Karas, Kab Magetan, Jawa Timur. Korban jiwa mencapai 101 orang. Sebanyak 99 orang adalah awak pesawat, dua warga sipil.

8 Juni

Helikopter jenis Bolkow-105 buatan PT DI tahun 1988 milik TNI-AD jatuh di Rawabeber, Pagelaran, Cianjur. Korban tewas mencapai tiga orang dan dua lain luka.

12 Juni

Helikopter Puma SA 330 dengan nomor registrasi H 3306 jatuh di lapangan rumput Lanud Atang Sendjaja, Bogor, pukul 14.00 setelah menjalani perawatan. Hingga Jumat (12/6) pukul 17.00, ada empat orang yang tewas.

Seri Super Puma

– Penerbangan pertama pada 1978.

– Fungsi evakuasi dan transportasi di daerah sulit.

– Sangat cocok untuk helikopter angkut VVIP.(sumber:jawapos)

1 Komentar

  1. Iklan Gratis said,

    September 9, 2009 pada 1:34 am

    Turut beduka atas terjadinya musibah yang sepertinya terus berulang ini. padahal kan menurut yang berwenang, pesawatnya masih laik jalan. kira-kira letak kesalahannya di mana ya? human error, usia tua pesawat, ataukah faktor X lainnya?. tapi, kalau kejadian seperti ini terus terulang, bisa-bisa tingkat kepercayaan masyarakat ma TNI terus menurun nih. belum di apa-apakan aja, pesawatnya sudah pada jatuh.
    Namun, dari sini kita dapat mengambil hikmah. sepertinya pemerintah harus memberikan porsi anggaran lebih untuk perlengkapan alutsista TNI.
    Mengembalikan Jati Diri Bangsa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: