Polri: Moge Jangan Seenaknya!!!

 

moge3

Pengendara motor besar alias motor gede bukanlah pengguna jalan yang bisa mendapat keistimewaan. Moge, seperti halnya sepeda motor lainnya, harus melaju di lajur kiri dengan tertib. Polisi juga berjanji mengusut tuntas peristiwa kekerasan oleh konvoi moge yang menimpa Edwin Sudibyo (51).

”Semua kendaraan roda dua, termasuk moge (motor gede), harus di lajur kiri, bukan kanan. Apalagi pakai vorrijder, harusnya sudah tahu. Moge jangan seenaknya, jalan itu bukan punya mereka, milik umum. Jangan sok-sokan,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Senin (15/6).

Abubakar menambahkan, polisi lalu lintas tidak perlu segan-segan menindak pengendara moge yang berulah, apalagi sampai melakukan kekerasan terhadap pengguna jalan lainnya.

Edwin mengatakan, ia berharap ada pertanggungjawaban organisasi terhadap ulah anggotanya yang sewenang-wenang di jalan hingga melukai pengguna jalan lain. Edwin mengaku yakin, polisi akan serius menangani perkaranya hingga ke pengadilan.

Edwin menjadi korban kekerasan konvoi moge di Puncak, 24 Mei lalu. Selain mobilnya yang dirusak, Edwin dipukul salah satu peserta konvoi hingga lebam. Kerugian nonmateriil lainnya adalah trauma yang dialami istrinya yang tengah hamil, ketiga anaknya, dan ayah mertuanya, yang ketika itu turut dalam mobil. ”Saya tidak ingin peristiwa seperti ini terjadi lagi suatu saat kepada siapa pun. Karena itu, saya bikin laporan polisi dan ingin sampai pengadilan,” kata Edwin.

Edwin mengatakan, ia sangat mengapresiasi respons polisi dari Polsek Cisarua yang pertama kali menangani perkaranya.

Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Suntana memastikan tidak menghentikan penyelidikan dan penyidikan kasus sejumlah anggota rombongan moge yang mengeroyok Darmawan Edwin Sudibyo. Saat ini sudah delapan orang yang diperiksa sebagai saksi. ”Kasus itu akan lanjut secara hukum. Sekarang Polres yang tangani. Sudah delapan orang yang diperiksa sebagai saksi, termasuk ketua rombongan motor gede tersebut,” kata Suntana, Senin malam.

Terlapor dipanggil ulang

Suntana mengaku, polisi menemui kendala memanggil pihak terlapor. Karena itu, polisi belum dapat memastikan hingga berapa lama penyidikan selesai. ”Kapan selesainya, tergantung dari penyidikan. Sekarang pun memanggil saksi atau terlapor agak sulit. Tetapi, kami terus melakukan pemanggilan ulang kepada mereka. Sampai kasus ini terungkap jelas dan dapat diproses sesuai hukum,” katanya.

Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ipung Purnomo mengatakan, peraturan dan tata krama berlalu lintas pengemudi moge sama dengan pengemudi sepeda motor lainnya. ”Tidak ada pengecualian dan pengistimewaan terhadap para pengemudi moge, baik saat mengemudi secara individual, maupun saat mengemudi moge secara konvoi,” ujarnya.

Ipung mengatakan, sebaiknya konvoi moge mempersilakan dengan sopan kepada kendaraan lain yang hendak mendahului konvoi. ”Yang santun begitu. Mereka kan bukan konvoi duka, iring-iringan pemadam kebakaran, atau konvoi resmi pejabat negara. Kewajiban dan hak mereka sama dengan para pengguna jalan lainnya,” tuturnya.

Ditanya tentang kemungkinan masih beredarnya moge ilegal di jalan raya milik kalangan pejabat, mantan pejabat, dan pengusaha, Ipung menjawab, ”Kalau ketahuan, ya kita tangkap. Kendaraan kita kandangin. Aturan mainnya begitu,” kata Ipung.

Populasinya ribuan

Menurut Ipung, saat ini jumlah moge di Jakarta mencapai sekitar 5.000 buah. Sebanyak 3.000 di antaranya adalah moge Harley Davidson. ”Semakin banyak populasinya, seharusnya semakin santun berlalu lintas sebab mereka menjadi sorotan publik,” kata Ipung.

Sidik, seorang pengendara moge, mengatakan, perilaku arogan yang diduga dilakukan pengendara moge terhadap Edwin Sudibyo dan keluarga sangat memalukan. ”Mereka ingin bergaya ala biker Harley Amerika, tetapi setengah-setengah. Biker Amerika adalah orang-orang yang betul-betul independen, hidup mandiri, dan sederhana meski hidup di jalanan,” kata Sidik.

Senada dengan Sidik, Willy Oka, Ketua Kelompok Silver Hawk, memilih untuk tampil low profile. ”Kami lebih menikmati touring tanpa pengawalan. Lebih enak jalan sendiri dan mengenal sekitar serta nongkrong di warung sambil jalan-jalan,” kata Willy. (sumber:kompas)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: