Awas Ikan Asin Dapat Menyebabkan Kanker Nasofaring!

k_himono

BIASANYA, gairah makan bertambah kalau ada ikan asin. Masalahnya, terlalu banyak makan ikan asin, apalagi dalam waktu yang cukup lama bisa berakibat tak baik. Salah satunya adalah kanker nasofaring.
Nasofaring adalah daerah berbentuk kubus yang terletak di belakang hidung. Bagian depannya berbatasan dengan rongga hidung, bagian atasnya berbatasan dengan dasar tenggorokan, dan bagian bawahnya merupakan langit-langit dan rongga mulut.
“Ruang kecil antara hidung mulut dan telinga itu dinamakan fossa rosenmulleri,” terang dr Cita Herawati Murjantyo, Sp.THT dari Rumah Sakit Darmais, Jakarta Selatan.
Kanker nasofaring merupakan kanker ganas dan terjadi hampir 60 persen. Setelah itu tumor ganas di hidung dan sinus paranasal sebanyak 18 persen, laring 16 persen, lalu tumor ganas rongga mulut, tonsil, dan hipofaring dalam prosentase rendah.
“Nasofaring ini memang banyak diderita oleh warga Asia karena memang genetikanya seperti itu,” sambungnya.
Faktor Penyebab
Menurut dr Cita, penyebab umum kanker karena pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Sel kanker muncul karena virus-virus. Kanker dapat juga timbul karena faktor keturunan atau genetik, lingkungan, dan juga virus.
Terlalu banyak mengonsumsi ikan asin secara terus-menerus dapat menyebabkan kanker nasofaring. Ikan asin merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus Epstein-Barr sehingga menimbulkan kanker nasofaring. Virus Epstein-Barr ini berperan penting menyebabkan terjadinya kanker nasofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini masuk ke dalam tubuh dan tinggal di nasofaring tanpa menimbulkan gejala.
Virus ini kemudian diaktifkan oleh ikan asin. “Bumbu masak tertentu dan makanan yang terlalu panas pun bisa menjadi pencetus,” terang dr Cita. Orang, yang keluarganya punya riwayat kanker nasofaring, besar kemungkinan mengidap kanker yang sama.
Faktor pencetus lain yang dapat menimbulkan kanker nasofaring adalah rokok dan alkohol. “Kedua barang ini sangat berpotensi menimbulkan kanker nasofaring,” tambahnya. Lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik, asap dupa, kontak dengan zat karsinogen (seperti pada pekerja pabrik bahan kimia), ras, keturunan, dan radang kronis pun dapat menyebabkan kanker nasofaring.
Gejala-gejala
Gejala kanker ini tergantung pada edarajat penyebaran dan lokasi tumbuhnya tumor. Gejala kanker nasofaring dapat dibagi menjadi empat kelompok. Pertama, gejala nasofaring itu sendiri. Gejalanya biasanya berupa mimisan ringan dan hidung tersumbat. Gejala ini menunjukkan bahwa kanker nasofaring masih pada stadium awal.
Gejala kedua, gejala yang timbul dari dan pada daerah telinga. Misalnya, telinga berdengung, terasa tidak nyaman, dan nyeri. Ini merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat dengan muara tuba Eustachius atau saluran penghubung hidung dan telinga.
Gejala ketiga, gejala yang terjadi pada mata dan saraf. Ini bisa jadi merupakan gejala lanjut karena nasofaring dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejalanya sendiri dapat berupa nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgiatrigeminal), pandang kabur, dan diplopia atau penglihatan ganda. Diplopia adalah gangguan penglihatan yang mana objek terlihat dobel atau ganda.
Gejala keempat, gejala metastasis atau menyebar atau gejala di leher. Biasanya berupa bengkak di leher karena pembengkakan kelenjar getah bening.
“Jika sudah sampai terlihat benjolan, itu harus hati-hati karena sudah masuk stadium 2 ke atas,” katanya.
Diagnosa dan Pengobatan
Seperti pada umumnya, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang tanda dan gejala yang dialami si penderita. Setelah itu, dokter akan menekan bagian leher, dimana terdapat kelenjar getah bening yang bengkak. Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik.
Jika dicurigai terjadinya kanker, dokter akan menggunakan endoskop untuk melihat nasofaring yang abnormal tersebut. Pada tahap ini diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy atau sample untuk mengetahui apakah itu kanker atau tidak. Kemudian diuji dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk menentukan stadium, lalu CT scan untuk melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru.
Ada 4 stadium 0, yaitu sel-sel kanker masih berada dalam batas nasofaring. Biasa disebut dengan nasofaring in situ. Kedua, stadium 1, di mana sel kanker menyebar di bagian nasofaring. Ketiga, stadium 2, di mana sel kanker sudah menyebar ke rongga hidung. Atau dapat pula menyebar ke kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher. Ketiga, stadium 3. Di sini kanker sudah menyerang kelenjar getah bening di leher. Dan keempat, stadium 4. Pada stadium ini, kanker sudah menyebar ke saraf dan tulang di sekitar wajah.
Ada beberapa macam pengobatan terhadap kanker nasofaring, antara lain, terapi radiasi, kemoterapi, dan pembedahan. Radiasi adalah terapi yang dapat merusak sel-sel kanker dengan cepat. Terapi ini dilakukan selama 5-7 minggu pada stadium awal. Efek samping terapi ini adalah mulut terasa kering, kehilangan pendengaran, dan memperbesar sel-sel kanker pada lidah dan tulang.
Kemoterapi merupakan terapi dengan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara mereduksi sel-sel kanker yang ada. Tapi adakalanya sel-sel yang sehat, alias yang tidak terkena kanker, juga terinduksi. Efek samping dari terapi ini adalah rambut rontok, mual, lemas seperti kehilangan tenaga. Terakhir adalah pembedahan atau operasi untuk mengambil kelenjar getah bening yang telah terkena kanker.(sumber:okezone)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: